Minggu, 29 Desember 2024

Kepingan Asa di Tengah Gelap

 Kepingan Asa di Tengah Gelap


Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau, tinggallah seorang gadis bernama Nabila. Ia baru saja menginjak usia tiga belas tahun, usia yang semestinya penuh dengan canda tawa dan mimpi-mimpi indah. Namun hidup Nabila tak semanis dongeng-dongeng yang dulu diceritakan ibunya saat malam menjelang.

Ayahnya telah lama pergi merantau, katanya untuk mengubah nasib. Tetapi tahun demi tahun berlalu, kabar ayah seperti embun pagi yang hilang tersapu mentari. Hanya janji-janji yang tertinggal, menggantung di angan. Ibunya, Bu Siti, berjuang sekuat tenaga menjual makanan dari rumah. Setiap pagi aroma nasi pecel yang sedap menggugah selera menyemarakkan dapur mereka. Namun semakin hari, beban hidup terasa kian berat, dan hati Bu Siti mulai rapuh.

Suatu hari, datanglah seorang duda kaya bernama Pak Wiryo ke warung kecil mereka. Dengan senyum manis dan kata-kata manja, ia merayu hati Bu Siti yang sepi. Nabila tahu, ada yang berubah pada ibunya. Ia melihat tatapan ibunya tak lagi hangat seperti dulu, pikirannya seolah melayang ke tempat lain.

“Bunda, apa kabar ayah?” tanya Nabila suatu sore, berharap jawaban yang ia tahu tak akan datang.
“Sudahlah, Nak. Jangan tanya hal yang bunda sendiri tak tahu,” jawab Bu Siti dengan nada lelah.

Beberapa bulan kemudian, kabar yang ditakutkan Nabila pun tiba. Bu Siti menikah dengan Pak Wiryo. Namun, pernikahan itu tidak membawa Nabila serta. Ia dititipkan pada neneknya, yang meski sudah renta, menyambutnya dengan kasih tanpa batas.

Waktu berlalu, Nabila belajar menerima. Bersama nenek dan kakeknya, ia menemukan cinta yang sederhana. Tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Kakeknya jatuh sakit dan tak lama kemudian berpulang. Hanya beberapa bulan berselang, neneknya menyusul. Kini, Nabila benar-benar sebatang kara.

Kesendirian itu seperti malam tanpa bintang, gelap dan menyesakkan. Nabila hampir saja terseret dalam pergaulan yang salah, mencoba melupakan luka dengan bergaul bersama mereka yang gemar bermain api. Hingga suatu hari, datanglah secercah cahaya dalam hidupnya.

“Bu Wulan?” panggil Nabila lirih saat guru bahasa Indonesianya menemuinya di rumah.
“Nak Nabila, kenapa kamu tidak masuk sekolah? Ibu mencarimu,” ujar Bu Wulan, suaranya lembut namun tegas.

Kisah selengkapnya baca di Kelana Juna.

Hari itu menjadi titik balik bagi Nabila. Bu Wulan tak hanya mengajarinya membaca dan menulis, tetapi juga mengajarinya tentang hidup. Ia mendengarkan cerita Nabila, menghapus air matanya, dan mengembalikan asa yang hampir pudar.

“Nabila, hidup ini seperti pohon. Kadang rantingnya patah, daunnya gugur, tetapi selama akarnya tetap kokoh, ia akan tumbuh lagi,” kata Bu Wulan suatu sore, sambil menyerahkan buku harian kecil untuk Nabila menuliskan mimpinya.

Kini, Nabila berjuang untuk masa depannya. Ia belajar dengan tekun, bekerja paruh waktu untuk menyambung hidup, dan sesekali menatap langit malam, berbisik kepada bintang-bintang tentang rindu kepada ayah dan ibu yang entah di mana.

Hidupnya mungkin masih berat, tetapi ia tahu, selama ia memiliki harapan dan doa, gelap tak akan pernah benar-benar mengalahkan terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH

  PENDEKATAN BERBASIS TEKS (GENRE-BASED APPROACH) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH Oleh: Didik Junaidi Pendahuluan Pembelajara...