Kepingan Asa di Tengah Gelap
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau, tinggallah seorang gadis bernama Nabila. Ia baru saja menginjak usia tiga belas tahun, usia yang semestinya penuh dengan canda tawa dan mimpi-mimpi indah. Namun hidup Nabila tak semanis dongeng-dongeng yang dulu diceritakan ibunya saat malam menjelang.
Ayahnya telah lama pergi merantau, katanya untuk mengubah nasib. Tetapi
tahun demi tahun berlalu, kabar ayah seperti embun pagi yang hilang tersapu
mentari. Hanya janji-janji yang tertinggal, menggantung di angan. Ibunya, Bu
Siti, berjuang sekuat tenaga menjual makanan dari rumah. Setiap pagi aroma nasi
pecel yang sedap menggugah selera menyemarakkan dapur mereka. Namun semakin
hari, beban hidup terasa kian berat, dan hati Bu Siti mulai rapuh.
Suatu hari, datanglah seorang duda kaya bernama Pak Wiryo ke warung kecil
mereka. Dengan senyum manis dan kata-kata manja, ia merayu hati Bu Siti yang
sepi. Nabila tahu, ada yang berubah pada ibunya. Ia melihat tatapan ibunya tak
lagi hangat seperti dulu, pikirannya seolah melayang ke tempat lain.
“Bunda, apa kabar ayah?” tanya Nabila suatu sore, berharap jawaban yang ia
tahu tak akan datang.
“Sudahlah, Nak. Jangan tanya hal yang bunda sendiri tak tahu,” jawab Bu Siti
dengan nada lelah.
Beberapa bulan kemudian, kabar yang ditakutkan Nabila pun tiba. Bu Siti
menikah dengan Pak Wiryo. Namun, pernikahan itu tidak membawa Nabila serta. Ia
dititipkan pada neneknya, yang meski sudah renta, menyambutnya dengan kasih
tanpa batas.
Waktu berlalu, Nabila belajar menerima. Bersama nenek dan kakeknya, ia
menemukan cinta yang sederhana. Tetapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Kakeknya jatuh sakit dan tak lama kemudian berpulang. Hanya beberapa bulan
berselang, neneknya menyusul. Kini, Nabila benar-benar sebatang kara.
Kesendirian itu seperti malam tanpa bintang, gelap dan menyesakkan. Nabila
hampir saja terseret dalam pergaulan yang salah, mencoba melupakan luka dengan
bergaul bersama mereka yang gemar bermain api. Hingga suatu hari, datanglah
secercah cahaya dalam hidupnya.
“Bu Wulan?” panggil Nabila lirih saat guru bahasa Indonesianya menemuinya di
rumah.
“Nak Nabila, kenapa kamu tidak masuk sekolah? Ibu mencarimu,” ujar Bu Wulan,
suaranya lembut namun tegas.
Kisah selengkapnya baca di
Kelana Juna.
Hari itu menjadi titik balik bagi Nabila. Bu Wulan tak hanya mengajarinya
membaca dan menulis, tetapi juga mengajarinya tentang hidup. Ia mendengarkan
cerita Nabila, menghapus air matanya, dan mengembalikan asa yang hampir pudar.
“Nabila, hidup ini seperti pohon. Kadang rantingnya patah, daunnya gugur,
tetapi selama akarnya tetap kokoh, ia akan tumbuh lagi,” kata Bu Wulan suatu
sore, sambil menyerahkan buku harian kecil untuk Nabila menuliskan mimpinya.
Kini, Nabila berjuang untuk masa depannya. Ia belajar dengan tekun, bekerja
paruh waktu untuk menyambung hidup, dan sesekali menatap langit malam, berbisik
kepada bintang-bintang tentang rindu kepada ayah dan ibu yang entah di mana.
Hidupnya mungkin masih berat, tetapi ia tahu, selama ia memiliki harapan dan doa, gelap tak akan pernah benar-benar mengalahkan terang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar